Semua tulisan dari Ilia Dewi

Perjalanan Menuju Keindahan Di Oomoto Center

Pada kunjungan terakhir ke Jepang, tanggal 11 hingga 21 Oktober 2018, perwakilan asosiasi kami, Ilia Dewi, sukses ambil bagian dalam kongres umum antara Jepang dan Korea yang berlangsung di kota Nara. Kongres tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan baginya karena dia mengalami waktu-waktu yang menyenangkan dengan para esperantis yang telah dikenalnya dari kedua negara tersebut dan berkenalan dengan teman-teman baru dari negara lain.

Perjalanan ini juga sangat istimewa karena dia mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Oomoto Center di Kameoka. Menurutnya, penutur-penutur Esperanto sering menyarankannya untuk mengunjungi tempat tersebut, dan karena itu pula ia menjadi ingin tahu dan ingin mewujudkan kunjungan itu.

Ia tidak mengetahui banyak tentang Oomoto serta hubungannya dengan bahasa Esperanto, kecuali bahwa Oomoto adalah sebuah agama yang mana selalu ada pertemuannya pada kongres-kongres internasional Esperanto. Dari situ ia berkenalan dengan Toshiomi Okuwaki, yang memandu pertemuan itu. Pada Kongres Universal (UK) yang terakhir di Seoul pada tahun 2017, Ilia bertemu dengannya dan para muda-mudi yang mengenakan pakaian tradisional Jepang, yang mana mereka adalah kelompok dari muda-mudi penganut Oomoto.

Sebagai persiapan untuk perjalanannya ke Jepang, Ilia  menghubungi Toshiomi Okuwaki. Beliau menyarankan seandainya memungkinkan baginya untuk melakukan kunjungan ke Oomoto Center itu setelah Kongres Bersama Jepang-Korea, karena kota Nara terletak dekat dengan Kameoka. Ia berpikir bahwa itu adalah sebuah kesempatan yang baik dan memutuskan untuk melakukan kunjungan tersebut. Dalam diskusi dengan Okuwaki, ia membuat jadwal dan rencana kegiatan selama kunjungannya. Ilia sangat beruntung karena kali ini ia disambut sebagai tamu dan penginapannya telah diatur dengan baik.

Sebelum pertemuan, para peserta berdoa dan Tn. Okuwaki memberi buklet pada Ilia, yang mana berisi doa-doa dalam bahasa Jepang dan Esperanto. Ia terkesima dengan cara doa yang dirasa unik itu.

 

Tak lama kemudian, pertemuan pun dimulai dan Tn. Masui Saeko yang mengatur pertemuan memperkenalkan para tamu kepada para peserta. Ny. Liru Chen menjelaskan sedikit pengalaman hidupnya dengan bahasa Esperanto dan bagaimana caranya ia mulai mempelajarinya. Ia dan keluarganya juga berkesempatan untuk menjamu para Esperantis di rumahnya.

 

Tn. Okuwaki menerjemahkan presentasi tersebut ke dalam bahasa Jepang, sehingga dapat dimengerti oleh para peserta sebab beberapa dari mereka masih merupakan penutur pemula. Ilia Dewi melanjutkan kegiatan dengan presentasinya. Kali ini ia mempersiapkan tema tentang kain tradisional yang bernama “Ulos” dari suku Batak, yang mana dapat ditemukan di bagian utara pulau Sumatera. Kain “ulos” menjadi bagian penting dalam upacara kebudayaan dan aktivitas tersebut. Ia juga memperkenalkan tarian tradisional dari Nusa Tenggara Timur, yang merupakan salah satu provinsi di bagian timur Indonesia.

 

Pada kesempatan tersebut ia juga berkesempatan untuk mengenakan pakaian tradisional Jepang, Kimono. Tiga perempuan membantu Ilia untuk mengenakan sehelai kimono kuning. Dengan demikian ia pun tampak seperti perempuan Jepang dan itu merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan baginya.

 

Pada sore hari pertemuan berakhir dan mereka saling berpisah. Ia senang karena pertemuan yang baik tersebut dan persahabatan baru yang terjalan. Bersama dengan Tn. Okuwaki, ia bepergian dengan kereta ke Kameoko. Mereka sampai di Oomoto pada larut malam. Karenanya ia tidak dapat banyak melihat di sekeliling Pusat Oomoto.

 

Di ruang penerimaan ia merasa senang dengan sambutan yang hangat. Setelahnya Tn. Okuwaki memberinya informasi-informasi kegiatan yang penting. Dalam informasi itu disebutkan bahwa setiap pagi dilangsungkan doa di kuil tersebut. Pada saat itu para penganut Oomoto datang ke kuil itu untuk berdoa bersama-sama. Setiap hari kerja di Pusat Oomoto, setiap pelayan berdoa bersama-sama di kuil tersebut. Pada kesempatan itu ia hadir dan Tn. Okuwaki memperkenalkannya sebagai tamu kepada semuanya.

 

Setelah sarapan dan sebelum berdoa bersama-sama di kuil, Ilia berjalan di luar untuk menikmati alam dan udara yang segar. Pusat Oomoto terletak di lahan yang luas dan dikelilingi oleh pepohonan, serta sangat tenang. Sembari melihat-lihat sekeliling, ia menemukan batu besar, yang bertulisan “Unu Dio, Unu Mondo, Unu Interlingvo” (Satu Tuhan, Satu Dunia, Satu Bahasa Perantara). Ia menyebut bahwa terkadang para penutur Esperanto yang mengunjungi Pusat Oomoto berfoto-foto di dekat monumen Esperanto itu. Begitu pula dengan dia. Menurut informasi dari Tn. Okuwaki, kata-kata yang tertulis di monumen itu menjelaskan tujuan dari kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, sedang dilakukan, dan akan dilakukan oleh kaum Oomoto, yang mana berkaitan dengan gagasan dasar dari bahasa Esperanto, yaitu perdamaian dan bahasa yang bersifat netral.

 

Setelah pertemuan singkat di kuil tersebut, Tn. Okuwaki memandu Ilia untuk melihat foto-foto, berbagi dokumentasi serta karya-karya seni yang dikumpulkan dengan baik untuk menunjukkan pengajaran Oomoto, begitu juga kegiatan dan sejarahnya. Terdapat pula sebuah film dalam bahasa Esperanto yang menolongnya untuk mengerti pengajaran Oomoto dan kaitannya dengan bahasa Esperanto dengan lebih baik yaitu “Kia estis instruo de Kunfondinto, S-ro Deguchi Onisaburo” (Seperti Apa Pengajaran dari Sang Pendiri, Tn. Deguchi Onisaburo).

 

Siang harinya, Tn. Okuwaki memandu Ilia ke rumah yang berfungsi sebagai tempat diadakannya upacara minum teh. Upacara itu merupakan sebuah bagian yang penting dalam budaya Jepang. Seorang tuan melayani mereka dengan memberi teh matcha hijau, kue kecil dan manisan yang disajikan dengan cara tradisional. Ia mengikuti cara minum teh sebagaimana yang ditunjukkan oleh Tn. Okuwaki dan memperhatikan penjelasan dari beliau. Pada sore hari digelar pertemuan selamat datang. Ia tidak mengira bahwa para peserta merupakan keluarga-keluarga penganut Oomoto. Ia pun berkenalan dengan senang hati, bercakap-cakap, dan makan malam bersama mereka. Beberapa anak-anak dengan berani berbicara dan mempraktikan kemampuan bahasa Esperanto bersamanya, seolah-olah mereka adalah penutur pemula. Pada pertemuan itu Ilia Dewi melakukan presentasi tentang gerakan Esperanto di Indonesia beserta kegiatan-kegiatannya. Ia juga menari dan mereka pun mengajarkan tarian Oomoto. Seperti itulah kami bisa bersenang-senang bersama lewat tarian. Ia tersentuh dengan nuansa keramahan dan bersahabat.

Pesta Zamenhof 2018

Pada tanggal 15 Desember 2018, kami menggelar Pesta Zamenhof di Taman Tebet, Jakarta. Kami memilih lokasi ini atas pertimbangan dapat menikmati alam serta di saat bersamaan membuka kegiatan di publik. Kali ini hanya sedikit peserta yang hadir. Dua orang memulai dengan membacakan puisi-puisi dari Zamenhof, salah satunya yang berjudul “Ho, Mia Kor'” (Oh, Hatiku). Selanjutnya, kami menyanyikan dua lagu yaitu “Dankon Zamenhof” (Terima Kasih Zamenhof) dan “Esperanto Por Ni” (Esperanto Untuk Kita). Di bagian terakhir, kami menyantap kue Esperanto dan berbincang tentang pengalaman dan gerakan bahasa Esperanto.

Kami juga menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan bahasa Esperanto kepada orang-orang yang berkumpul di taman itu. Sebagian besar dari mereka adalah muda-mudi yang melakukan berbagai aktivitas seperti berolahraga, bermain atau hanya sekadar ngobrol. Kami menengok sekelompok pemuda yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Kami menemui dan menyapa mereka dan disambut dengan baik. Mereka adalah pelajar-pelajar dari SMK Karya Teladan. Kami pun segera memperkenalkan kegiatan kami dan bertanya apabila ada dari mereka pernah mendengar tentang bahasa Esperanto. Beberapa dari mereka menjawab bahwa bahasa tersebut adalah bahasa Spanyol, Meksiko, atau Portugis. Jelas mereka tidak mengetahui apa-apa tentang Esperanto.

Kami terus melanjutkan perkenalan Esperanto dengan informasi umum dan mengajak mereka untuk mengunjungi situs web Asosiasi Esperanto Indonesia dan mengikuti halaman media sosial kami. Kami juga membagikan kue Esperanto dan cinderamata kepada beberapa yang berani bertanya dan menjawab, di samping itu kami terus melakukan perkenalan kepada orang-orang. Pada sore hari, kegiatan kami berakhir dengan bahagia, karena kami telah berhasil merayakan dan menyebarkan bahasa Esperanto.

Diterjemahkan oleh Victor Max

Esperanto di MeetUp Polyglot Indonesia, Chapter Jakarta

Sesi belajar dasar-dasar Esperanto

Pada Augustus 2018, Asosiasi Esperanto Indonesia (IEA) berkerjasama dengan komunitas Polyglot Indonesia untuk memperkenalkan bahasa Esperanto. Presiden IEA, Ilia Sumilfia Dewi diundang bersama seorang anggota, Arman Yusuf untuk memberi presentasi selama dua jam.

Hadir sekitar 58 orang yang sebagian besar telah menguasai lebih dari dua bahasa asing. Sebagian tertarik hadir pada perkenalan bahasa Esperanto karena belum pernah mendengar tentang Esperanto. Sementara yang lain pernah mendengar atau belajar sedikit bahasa Esperanto secara otodidak. Presentasi Esperanto dimulai dengan sekilas mengenai sejarah Esperanto dan gerakannya. Selanjutnya mengenai peran UEA, IEA dan manfaat belajar bahasa Esperanto.

Pada sesi selanjutnya adalah belajar dasar-dasar Esperanto. Dianjurkan untuk pemula memiliki buku “Kunci” yang didalamnya terdapat tatabahasa dasar Esperanto dan daftar kata-kata yang berfungsi sebagai kamus kecil.

Pada sesi terakhir para peserta diberikan kesempatan bertanya mengenai apapun yang telah disampaikan atau yang ingin diketahui tentang Esperanto. Cukup banyak peserta yang tertarik bertanya mengenai literatur Esperanto, film, musik dan kursus Esperanto.

Diharapkan selanjutnya ada anggota polyglot Jakarta yang tertarik belajar bersama Esperanto dengan membuka “Esperanto table” di pertemuan rutin polyglot Indonesia chapter Jakarta.