Film Pendek UK-44, Warsawa 1959

Pada penyelenggaraan Kongres Esperanto Universal (UK) ke-44 di kota Warsawa, para penutur esperanto atau esperantis dari berbagai negara ikutserta termasuk dari Indonesia. Tokoh pergerakan Esperanto yang utama saat itu, Ibu Rankajo Chailan Sjamsoe Datoe Toemonggoeng hadir mewakili Indonesia. Beliau juga diminta untuk naik ke atas pondium  pada saat pembukaan kongres untuk menyapa para peserta kongres yang berjumlah 3,500 orang dari berbagai negara. Berikut film pendek berjudul “Verda Stelo Super Varsovio” atau dalam bahasa Indonesia “Bintang Hijau Diatas Warsawa” menyajikan sekilas pelaksanaan kongres tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai peran ibu Datoe Toemoenggeong didalam gerakan Esperanto yaitu diantara tahun 1952-1964, buku yang ditulis oleh esperantis Belgia, Heidi Goes  yang berjudul ‘ Movadaj Insuletoj’ dapat menjadi sumber informasi yang didasarkan pada eksplorasi Heidi dari berbagai sumber literatur, pustaka, wawancara dan sebagainya.

Film ini kami unduh dari halaman facebook ‘Historio de Esperanto’ dan teks berbahasa Indonesia diterjemahkan oleh seorang esperantis muda, Victor Maxim Manuel.

Cerita Peserta Kursus Dasar 1

Esperanto sebagai sebuah bahasa yang memiliki penutur yang tersebar di berbagai belahan dunia sangat menarik perhatian saya. Ketertarikan itu saya tindaklanjuti dengan belajar Esperanto, terutama pada saat Work from Home  (WFH) selama pandemik Covid-19. Setelah mencari berbagai informasi, saya menemukan Asosiasi Esperanto di Indonesia, yaitu Indonezia Esperanto Asocio (IEA). Ada beragam kegiatan yang dilakukan oleh IEA, bahkan di masa pandemi ini, secara rutin mengadakan berbagai event secara online. Salah satunya, Kursus Dasar Esperanto 1 untuk Pemula.

Setelah melalui proses registrasi, saya bisa mengikuti Kursus Dasar Esperanto 1 untuk Pemula dari IEA. Kursus Dasar Esperanto 1 ini diadakan secara online pada 18 Juli 2020. Walaupun diselenggarakan secara online, ini menjadi pengalaman pertama saya belajar bahasa Esperanto dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Sebelumnya saya belajar Esperanto melalui aplikasi Duolingo dari bahasa Inggis. Tentu saja, keikutsertaan saya dalam kursus ini bermula dari dari webinar yang diselengarakan IEA pada bulan sebelumnya, 13 Juni 2020. Webinar ini mengambil tema “Mengenal Bahasa Persahabatan Dunia, Esperanto”. Kursus Dasar Esperanto 1 untuk Pemula ini dipandu oleh Ilia Dewi, pengurus IEA. Diikuti oleh empat belas orang peserta dari berbagai kota di Indonesia melalui aplikasi Zoom Meeting.

Kursus dasar ini dimulai dengan materi pengenalan huruf Esperanto dan cara membacanya. Untuk saya yang memulai belajar Esperanto dari aplikasi Duolingo, hal ini sangat penting. Mengingat di aplikasi Duolingo, tidak secara langsung mengajarkan tentang huruf-huruf Esperanto dan cara membacanya. Ilia Dewi membimbing setiap peserta untuk mengenal huruf dan bunyi, terutama pada beberapa huruf yang khas dalam Esperanto. Salah satu hal yang memudahkan dalam bahasa Esperanto, tulisan dibaca sesuai dengan apa yang tertulis dengan penekanan biasanya pada huruf vokal kedua dalam setiap kata.

Materi selanjutnya adalah membuat kalimat sederhana dalam bahasa Esperanto. Materi ini dipandu Ilia Dewi dengan memberikan beberapa kosakata. Dilanjutkan dengan memberikan berbagai contoh kalimat dasar yang memuat kata benda, kata kerja, angka serta kata ganti. Peserta kursus juga diminta untuk menentukan mana kalimat yang benar dan mana yang salah dari berbagai contoh. Bagian menarik untuk saya adalah pada dasar pembentukan kata kerja dalam Esperanto yang berdasarkan waktu dengan akhiran “as”, “is”, dan “os”. Walaupun sudah sedikit memahami ini melalui aplikasi Duolingo, namun pemaparan pembelajaran dalam bahasa Indonesia, terasa lebih membantu. Selanjutnya, peserta mengajukan  beberapa contoh kalimat dari beberapa kata yang telah dibagikan sebelumnya. Pelatihan secara online melalui aplikasi Zoom ini berlangsung secara interaktif. Para peserta bisa langsung mengajukan pertanyaan yang langsung bisa ditanggapi.

Tanpa terasa, waktu dua jam kursus berlalu dengan cepat. Keempat belas orang peserta berhasil mengikuti Kursus Dasar Esperanto 1 ini. Sebagai tambahan untuk mendapatkan sertifikat, para peserta diminta untuk mengumpulkan tugas sebagai persyaratan. Selain itu, salah satu usulan dari peserta adalah membuat What’sapp Group sebagai wadah bertanya, berdiskusi, dan berinteraksi. What’sapp Group ini langsung dibuat setelah kursus berakhir dan hingga kini berjalan aktif.

Bagi saya sendiri, kursus ini sangat positif dan bisa memacu diri untuk lebih giat belajar Bahasa Esperanto karena adanya wadah berdiskusi dan bertanya kepada sesama pembelajar Esperanto. Kabar gembiranya, kursus dasar ini akan berlanjut dengan Kursus Esperanto Dasar 2. Rencananya akan diadakan pada 15 Agustus 2020. Saya dan teman-teman dari Kursus Dasar 1 akan mengikuti Kursus Dasar 2. Selain itu kehadiran peserta baru juga sangat dinantikan dan tentu saja bisa mendaftarkan diri untuk menjadi peserta.

Kamu tertarik? Ayo bergabung mengenal keseruan belajar Esperanto! Sampai berjumpa di Kursus Dasar Esperanto 2 untuk Pemula!

Ditulis oleh Fandra/Jakarta

Webinar Bahasa Persahabatan Dunia

Pada 13 Juni 2020 diadakan secara virtual pengenalan bahasa Esperanto. Kami mengadakan kegiatan ini dengan tema “Webinar Mengenal Bahasa Persahabatan Dunia, Esperanto”. Kegiatan ini terbuka untuk umum (masyarakat umum). Yang ingin ikutserta dapat mendaftar tanpa biaya (gratis) melalui nomer WhatsApp atau email dan kemudian link Zoom dikirimkan. Asosiasi Esperanto Iran (IREA) menjadi ‘tuan rumah’ dengan menyediakan ruang virtual melalui akun Zoom-nya. Pak Ahmad, esperantis Iran sangat membantu dalam hal teknis dan membuka ruang virtual tepat waktu sesuai jadwal yaitu pukul 13.00 – 15.00 WIB.

Diawal para peserta mendengarkan penjelasan mengenai Esperanto secara umum, sekilas periode sejarah Esperanto di Indonesia dan gerakan Esperanto saat ini. Kemudian mereka belajar dasar Esperanto. Ilia Dewi, pengurus IEA membimbing keseluruhan sesi selama dua jam. Sebelum berakhir, para peserta memiliki kesempatan untuk bertanya atau menyatakan opini/kesan mereka dan juga mendapat buku sebagai ‘doorprize’ bagi mereka yang beruntung.

Pada kegiatan ini, hadir 17 peserta dari Jakarta, Bandung, Bogor, Medan dan Kupang. Sebagian besar adalah mahasiswa dan lainnya adalah karyawan/pekerja. Beberapa dari mereka berpendapat bahwa Esperanto adalah bahasa yang menarik dan ingin mempelajarinya. Terima kasih kepada semua peserta!

Ayok Belajar Esperanto! Pasti Seru!

Sebagai upaya memperkenalkan Esperanto kepada masyarakat umum, kami membuat video yang berisi tentang keuntungan belajar Esperanto dan mengapa Esperanto layak dipelajari. Video ini dibuat berkat kerjasama dengan para penutur Esperanto dari Republik Kongo di Afrika Tengah, Finlandia, Australia, Brazil, Korea, Vietnam dan Polandia.

Bagi siapa pun yang ingin belajar bahasa Esperanto, silakan menghubungi kami, Asosiasi Esperanto Indonesia (IEA). Kami mengadakan kursus Esperanto untuk pemula dan lanjutan.  “Ayok Belajar Bahasa Esperanto! Pasti Seru!”

Ngobrol Virtual

Sejak Maret 2020 sebagai dampak dari pandemi Covid-19, kami membatalkan pertemuan rutin yang biasanya diadakan sebulan sekali. Pertemuan secara virtual kami adakan pada bulan April melalui aplikasi ‘Webex Meet atau Zoom’.  Undangan terbuka disebarkan melalui facebook dan instagram. Para peserta ngobrol virtual bukan hanya penutur Esperanto dari Indonesia tapi juga esperantis dari luar negeri.

Terakhir, beberapa teman esperantis dari Perancis, Polandia, Korea dan Taiwan ikutserta ngobrol virtual dengan kami. Kegiatan-kegiatan virtual (melalui aplikasi internet) adalah solusi untuk kondisi saat ini (selama pandemi) untuk mengaktifkan anggota asosiasi dan memberikan kesempatan kepada mereka yang belum sempat hadir dalam pertemuan rutin secara langsung.

Pertemuan Pertama Di 2020

Pada 19 Januari telah terlaksana pertemuan pertama asosiasi.  Kali ini kami mengadakannya di suatu tempat pertemuan  (co-working space) yang berada di stasiun kereta KRL.  Seorang anggota yang baru pertama kali hadir menceritakan tentang caranya mempelajari Esperanto secara mandiri sebelum dia menemukan informasi mengenai Asosiasi Esperanto Indonesia melalui internet. Dia mulai mengenal Esperanto ketika sedang menempuh studinya di Tiongkok. Anggota lainnya juga turut berbagi cerita mengenai pengalamannya dengan Esperanto. Selanjutnya, kami belajar bersama mengenai penggunaan sufiks -ig-, -iĝi- didalam kalimat. Kami menggunakan buku-buku “Esperanto dengan Metode Langsung” dan “Kunci” dalam pembelajaran kami. Kami sepakat bahwa buku-buku tersebut membantu kami untuk belajar dasar-dasar tatabahasa Esperanto. Kami juga terkadang menggunakan materi-materi belajar yang kami dapatkan dari website, contohnya laman edukado.net

Sebelum pertemuan kami berakhir, anggota mendapat kesempatan untuk bertanya mengenai kesulitan-kesulitan mereka atau informasi mengenai aktivitas asosiasi dan gerakan Esperanto. Pertemuan berakhir setelah berlangsung selama 3 jam dengan suasana yang menyenangkan. Sampai bertemu dikesempatan selanjutnya!

Dilaporkan oleh Ilia Dewi

Kegiatan Ekskursi Dalam Rangka Hari Zamenhof 2019

Dalam rangka Hari Zamenhof, kami mengadakan kegiatan ekskursi di kota Jakarta, tepatnya pada tanggal 15 Desember 2019. Terdaftar 20 orang namun hanya 10 yang dapat hadir. Beberapa adalah ‘pendatang baru’ yang tertarik mengenai Esperanto.

Ekskursi dimulai pada pukul 9 pagi sampai 3 sore. Para peserta berkumpul di MONAS yang terkenal sebagai ‘landmark’ kota Jakarta. Sambil berjalan kaki menuju tempat-tempat yang akan dikunjungi, peserta mendengar informasi yang disampaikan dalam bahasa Esperanto tapi mereka juga menerima kertas yang berisi informasi dalam bahasa Indonesia.

Kegiatan ekskursi ini berakhir sampai di area Kota Tua dimana dapat ditemukan bukti-bukti sejarah pada era kolonialisme Belanda. Akibat arus modernisasi, hanya sedikit bukti sejarah yang masih terlihat. Karena itu kegiatan ini cukup penting untuk menyampaikan sejarah dan disaat yang bersamaan memperdengarkan Esperanto.

Pada saat break makan siang, para peserta sampai di restoran yang terdapat di area Kota Tua. Disana kami beristirahat, makan siang dan berbincang santai. Beberapa menggunakan kesempatan untuk bertanya mengenai Esperanto dan gerakannya.

Sebelum akhir kegiatan ekskursi, kami memperkenalkan bahasa Esperanto kepada orang-orang disekitar melalui flyer. Kegiatan ekskursi berakhir dengan sukses dan gembira.

Dilaporkan oleh Ilia Dewi

Esperanto Di Perpusnas Expo 2019

Dalam rangka kegiatan tahunan Perpustakaan Nasional tahun ini yaitu “Perpusnas Expo 2019” yang dimulai dari tanggal 5 s/d 22 September 2019, Asosiasi Esperanto Indonesia diundang untuk memperkenalkan bahasa Esperanto kepada para anggota dan pengunjung Perpustakaan Nasional. Selama 12 hari, asosiasi kami mendirikan booth Esperanto dan mengadakan Perkenalan Esperanto dengan berbagai program untuk menunjukkan manfaat Esperanto dalam musik, film, buku-buku dan lainnya.

Booth Esperanto mulai dibuka pada 11 September yang berlokasi di lantai 4 gedung baru Perpustakaan Nasional. Rekan kami sejak jam 9 pagi sampai 3 sore melayani pengunjung yang mendekat ke booth untuk mengetahui atau menanyakan apa saja mengenai Esperanto dan pergerakannya. Pengurus asosiasi, Victor dan Ilia Dewi secara aktif memperkenalkan Esperanto dan kadang sedikit mengajar dasar Esperanto kepada beberapa pengunjung yang secara antusias ingin mengetahuinya. Kami juga membagikan flyer Esperanto yang berisi informasi singkat mengenai Esperanto dan bagaimana menghubungi asosiasi kami.

Di booth Esperanto kami tunjukan buku-buku Esperanto seperti buku pelajaran Esperanto, buku-buku terjemahan, novel-novel, kamus-kamus dan majalah-majalah. Salah satu buku penting yang ditunjukkan adalah buku karya Heidi Goes yang berisi periode sejarah gerakan Esperanto di Indonesia. Buku tersebut diterbitkan tahun ini setelah eksplorasinya yang panjang di Indonesia.

Sebagian besar pengunjung booth belum pernah mendengar tentang Esperanto dan terkait fakta bahwa Esperanto telah ada di Indonesia bertahun-tahun sebelumnya antara 1920-1965. Mereka yang mengunjungi booth tidak hanya mendengar banyak informasi mengenai Esperanto tapi juga menerima cinderamata yang disediakan untuk mereka-mereka yang menunjukkan ketertarikan. Berdasarkan daftar peserta yang mengunjungi booth lebih banyak adalah mahasiswa dan pelajar, sebagian lagi adalah guru, pekerja dan profesi lainnya.

Pada 15 September, kami adakan Perkenalan Esperanto dengan tema “Serba-Serbi Esperanto” yang merupakan rangkaian kegiatan kami di Perpustakaan Nasional. Pada kegiatan tersebut, mendaftar 136 orang dan 75 orang yang hadir mengikuti keseluruhan program acara. Pada jam 10 pagi, presiden Asosiasi Esperanto Indonesia, Ilia Dewi membuka acara dan menyampaikan kata sambutan dan selanjutnya memulai presentasi pertama mengenai Esperanto dan gerakannya. Acara ke-2 pada sesi pertama dilanjutkan dengan presentasi dari Victor salah seorang pengurus asosiasi mengenai Esperanto yang mengatakan Esperanto mirip seperti bahasa Indonesia. Dia menyampaikan fungsi Esperanto sebagai “bahasa jembatan” bagi orang-orang yang berasal dari berbagai bangsa sama seperti bahasa Indonesia. Di Indonesia terdapat hampir 700 bahasa daerah karena adanya perbedaan suku-suku. Dengan demikian kedua bahasa memiliki peran yang sama dalam mempersatukan orang-orang. Selanjutnya, dua pemudi mempresentasikan kegiatan Organisasi Esperanto Muda dibawah payung IEJO atau Esmud. Sebelum ISHOMA, peserta diberi kesempatan bertanya atau menyampaikan opini mengenai presentasi-presentasi yang telah disampaikan.

Pada saat istirahat, kami memutarkan film-film pendek Esperanto dan musik dari musisi Esperanto seperti Jomo, Jhony M, Perdita Generacio dan lainnya. Pada sesi ke-2, esperantis dari Belgia, Heidi Goes mempresentasikan bukunya “Movadaj Insuletoj” melalui video yang telah direkam sebelumnya. Dia memaparkan sejarah Esperanto di Indonesia. Pada sesi ini juga, seorang anggota asosiasi, Arman Yusuf turut berbagi cerita. Dia menyampaikan nilai propedeutik yang terdapat dalam bahasa Esperanto. Dia berbagi bagaimana Esperanto mempermudahnya untuk mempelajari bahasa asing lainnya, seperti bahasa Thailand dan bahasa Jepang.

Selanjutnya peserta diajak belajar sedikit dasar-dasar bahasa Esperanto. Dibimbing oleh Ilia Dewi, peserta belajar bagaimana melafalkan abjab-abjab Esperanto, kata-kata, angka-angka dan membuat kalimat sederhana. Presentasi terakhir disampaikan oleh seorang penulis Indonesia, Yohanes Manhitu melalui rekaman video karena tidak dapat hadir secara langsung mengenai buku-bukunya yang dia tulis dalam bahasa Esperanto dan bahasa asing lainnya. Sebelum akhir program, kami mengajak peserta bermain dan kepada yang beruntung mendapatkan cinderamata. Kegiatan kami berakhir tepat jam 4 sore dan ditutup dengan ucapan terima kasih yang mendalam kepada panitia Perpusnas Expo 2019 yang telah memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dan mengenalkan Esperanto.

Dengan suksesnya kegiatan kami di Perpustakaan Nasional, kami berpikir untuk meneruskan kerjasama seperti “Pojok Esperanto” atau mengajukan program kursus Esperanto bagi pengunjung Perpustakaan Nasional.

Dilaporkan oleh Ilia Dewi & Victor

 

Da Nang, Tuan Rumah Kongres Esperanto Asia-Oseania ke-9

Pada tahun 2019 Kongres Esperanto Asia-Oseania ke-9 di kota Da Nang yang digelar pada tanggal 25 hingga 28 April telah berlangsung dengan sukses. Kota yang terletak di Vietnam bagian tengah itu terkenal akan pantai-pantainya serta sejarahnya di masa pendudukan Perancis di negara itu. Di Da Nang terdapat bandara internasional yang dapat memudahkan perjalanan para wisatawan asing untuk mengunjungi kota tersebut. Turisme dan perdagangan menjadikan kota itu berkembang dengan cepat.

Kongres yang kali ini bertemakan “Esperanto dan Keberagaman Budaya di Asia dan Oseania” dihadiri oleh 233 orang dari 281 yang terdaftar. Terdapat tujuh peserta dari Indonesia, termasuk perwakilan dari Asosiasi Esperanto Indonesia (IEA), Ilia Dewi, yang memberi salam hangat kepada para hadirin dalam upacara pembukaan.

Ruang kongrese dipenuhi dengan pertemuan-pertemuan yang bersahabat yang disertai berbagai acara dan kegiatan bersama yang menyenangkan. Para anggota Komite Kongres Setempat (LKK) serta dewan pengurus Komisi Gerakan Esperanto Asia-Oseania (KAOEM) yang telah mengorganisasi kongres sudah bekerjasama dengan baik untuk mewujudkannya. Komite kongres setempat juga berhasil mendapatkan perhatian dan dukungan yang besar dari berbagai instansi di Vietnam, bahkan dukungan secara finansial.

Selama empat hari, para peserta kongres dapat ambil bagian dalam berbagai acara. Ilia Dewi melaporkan bahwa dia ikut ambil bagian dalam beberapa presentasi, rapat, darmawisata, serta saling berkenalan dengan kawan-kawan baru dan lama. Pertemuan terbuka untuk Gerakan Esperanto Asia-Oseania serta beberapa rapat tertutup merupakan bagian acara terpenting yang diikutinya. Dalam beberapa rapat tertutup tersebut, para pengurus KAOEM yang saat ini menjabat saling berdiskusi dengan para anggota tentang pokok bahasan penting yang berhubungan dengan pertemuan selanjutnya yaitu Kongres Asia-Oseania ke-10 serta pemilihan untuk pimpinan komisi yang baru. Telah diputuskan bahwa Korea akan menjadi tuan rumah kongres pada tahun 2022 serta para pengurus KAOEM yang terpilih untuk periode 2019–2022 terdiri dari presiden baru, Nisinaga Atusi dari Jepang, wakil presiden Nguyen Thi Phuong Mai dari Vietnam, sekretaris Oh Soonmo dari Korea dan Ilia Dewi dari Indonesia sebagai wakil sekretaris.

Beberapa kegiatan lain yang patut dikenang bagi dia adalah penanaman pohon di taman muda-mudi. Pada Sabtu pagi, para peserta kongres bergabung untuk menanam lima pohon hijau Zamenhof. Kegiatan penanaman itu menandai acara tingkat internasional di kota Da Nang dan tidak hanya berperan untuk menghijaukan taman tersebut, namun di saat bersamaan juga mempererat persahabatan, perdamaian, rasa solidaritas dan kerjasama di antara orang-orang di sekeliling dan di seluruh dunia. Setelah itu para partisipan kongres mengunjungi toko di “kota batu”.

 

Pada “malam internasional”, Ilia Dewi berkontribusi dengan memperkenalkan sedikit budaya Indonesia lewat tarian dan lagu dari Jakarta kepada para peserta kongres. Partisipan lain asal Indonesia, Syauqi, membaca sebuah puisi dalam bahasa Sunda. Malam itu merupakan malam yang sangat indah dan seru yang diisi dengan kegiatan kesenian dari peserta-peserta yang berbakat.

Upacara penutupan kongres dimulai pada pukul dua siang dan dimulai sambutan singkat oleh SO Jinsu, mantan presiden KAOEM. Inumaru Fumio, mantan wakil presiden memberi laporan singkat tentang pelaksanaan kongres dan juga S-ro Enkhee, mantan sekretaris yang memberi laporan singkat tentang statistik peserta kongres. Terakhir grup penutur Esperanto dari Vietnam menyanyikan lagu “Grandigu Nian Rondon” dan dilanjutkan dengan penutupan resmi kongres.

Diterjemahkan oleh Victor Max

Pesta Zamenhof 2018

Pada tanggal 15 Desember 2018, kami menggelar Pesta Zamenhof di Taman Tebet, Jakarta. Kami memilih lokasi ini atas pertimbangan dapat menikmati alam serta di saat bersamaan membuka kegiatan di publik. Kali ini hanya sedikit peserta yang hadir. Dua orang memulai dengan membacakan puisi-puisi dari Zamenhof, salah satunya yang berjudul “Ho, Mia Kor'” (Oh, Hatiku). Selanjutnya, kami menyanyikan dua lagu yaitu “Dankon Zamenhof” (Terima Kasih Zamenhof) dan “Esperanto Por Ni” (Esperanto Untuk Kita). Di bagian terakhir, kami menyantap kue Esperanto dan berbincang tentang pengalaman dan gerakan bahasa Esperanto.

Kami juga menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan bahasa Esperanto kepada orang-orang yang berkumpul di taman itu. Sebagian besar dari mereka adalah muda-mudi yang melakukan berbagai aktivitas seperti berolahraga, bermain atau hanya sekadar ngobrol. Kami menengok sekelompok pemuda yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Kami menemui dan menyapa mereka dan disambut dengan baik. Mereka adalah pelajar-pelajar dari SMK Karya Teladan. Kami pun segera memperkenalkan kegiatan kami dan bertanya apabila ada dari mereka pernah mendengar tentang bahasa Esperanto. Beberapa dari mereka menjawab bahwa bahasa tersebut adalah bahasa Spanyol, Meksiko, atau Portugis. Jelas mereka tidak mengetahui apa-apa tentang Esperanto.

Kami terus melanjutkan perkenalan Esperanto dengan informasi umum dan mengajak mereka untuk mengunjungi situs web Asosiasi Esperanto Indonesia dan mengikuti halaman media sosial kami. Kami juga membagikan kue Esperanto dan cinderamata kepada beberapa yang berani bertanya dan menjawab, di samping itu kami terus melakukan perkenalan kepada orang-orang. Pada sore hari, kegiatan kami berakhir dengan bahagia, karena kami telah berhasil merayakan dan menyebarkan bahasa Esperanto.

Diterjemahkan oleh Victor Max